Jumat, 05 Oktober 2012

Ringkasan ceramah dari al-marhum Nyiak Pakiah Saidan


Ringkasan ceramah dari al-marhum Nyiak Pakiah Saidan
TENTANG KEHIDUPAN MANUSIA SETELAH KEMATIAN
Sahabat Ma'adz bin Jabal bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah...terangkan kepadaku tentang makna firman Allah "ketika ditiup sangkakala, lalu kamu datang berkelompok-kelompok"". Lalu menangislah Rasulullah SAW. Cucuran air matanya membasahi pakaiannya. Engkau telah menanyakan sesuatu yang dahsyat. Umatku akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam 12 kelompok-kelompok tabiat.

Kelompok pertama :
Dibangkitkan tanpa kaki dan tangan, seraya terdengar suara dari sisiNya,
"Mereka adalah orang-orang yang mengganggu tetangganya. Maka inilah ganjarannya dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kedua : Dibangkitkan dalam bentuk babi, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah balasan bagi orang-orang yang bermalas-malasan melakukan sholat dan nerakalah tempatnya".

Kelompok ketiga : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan perutnya besar menggunung yang dipenuhi ular dan kalajengking, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran orang-orang yang menahan zakat dan nerakalah tempatnya".

Kelompok keempat : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan darah mengalir dari mulut, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang berdusta dalam perkara jual beli dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kelima : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan bau busuk, lebih busuk dari bau bangkai. seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang melakukan maksiat (perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat islam) secara sembunyi karena takut terlihat orang tapi tidak takut dari pengawasan Allah dan nerakalah tempatnya".

Kelompok keenam : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan terputus lehernya, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memberikan kesaksian palsu dan nerakalah tempatnya".

Kelompok ketujuh : Dibangkitkan dari kuburnya tanpa memiliki lidah dan dari mulutnya keluar darah dan nanah. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang tidak mau memberikan kesaksian dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kedelapan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan tertunduk dan kedua kakinya berada diatas kepala, seraya terdengar suara dari sisiNya, "inilah ganjaran bagi orang-orang yang suka melakukan zina dan terlanjur mati sebelum bertobat dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kesembilan : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan berwajah hitam dan matanya biru serta perutnya penuh api, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang memakan harta dan merampas hak anak-anak yatim secara zalim dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kesepuluh : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan sakit kusta dan sopak, seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang mendurhakai orang tuanya dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kesebelas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan buta hati, buta mata. Giginya seperti tanduk kerbau. Bibir dan lidahnya bergelantungan mencapai dada, perut dan paha. Dan dari perutnya keluar kotoran. Seraya terdengar suara dari sisiNya, "Inilah ganjaran bagi orang-orang yang meminum khamr (yang memabukan/alkohol) dan nerakalah tempatnya".

Kelompok kedua belas : Dibangkitkan dari kuburnya dalam keadaan wajah bercahaya, seperti bulan purnama. Melewati Shirath Al-Mustaqim secepat kilat menyambar angin. Seraya terdengar suara dari sisiNya "Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal sholeh kebajikan. Menjauhi segala kemaksiatan. Rajin memenuhi panggilan sholat dan mati setelah bertobat. Maka ganjaran mereka adalah Pengampunan, Rahmat, dan Ridho serta Surga dari ALLAH SWT".

"Ya Alllah,,, masukanlah hambaMU ini ke dalam golongan orang-orang yang selalu beriman kepadaMu ya Allah,,, jauhkan panas api neraka dari kami ya Allah....." Aamien.. salo.kitoko@yahoo.com

 ============ aaleoreo=========================


Selasa, 01 Mei 2012

DIBALIK KESULITAN PASTI ADA KEMUDAHAN


Percayalah pada janji Allah. Meskipun disaat kita sedang Galau

 “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS  Al-Insyirah: 5-6).

Tentu ayat di atas sudah tak asing lagi bagi kita. Kita seringkali mendengar ayat ini, namun kadang hati kita masih saja lalai, sehingga tidak betul-betul merenungkannya. Atau mungkin kita pun belum memahaminya. Padahal jika ayat tersebut betul-betul direnungkan sungguh luar biasa faedah yang dapat kita petik. Jika kita benar-benar mentadabburi ayat di atas, sungguh berbagai kesempitan akan terasa ringan dan semakin mudah kita pikul.  

Yakinlah...
“Kesulitan tidak mungkin mengalahkan kemudahan.”
‘Abdullah bin Mas’ud RA pernah berkata, “Seandainya kesulitan masuk ke dalam suatu lubang, maka kemudahan pun akan mengikutinya..."

Yakinlah .....
Bahwa di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan yang begitu dekat. Mungkin di awal-awal kesulitan, belum datang pertolongan atau jalan keluar. Namun ketika kesulitan semakin memuncak, semakin di ujung tanduk, maka setelah itu datanglah kemudahan. Mengapa demikian ya? Itu karena di puncak kesulitan, hati sudah begitu amat pasrah. Segala suatu telah diserahkan seluruhnya pada Allah, Rabb tempat bergantung segala urusan. Itulah yang dinamakan hakekat dari tawakkal.
Kuncinya adalah sabar. Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh dan berkeluh kesah.
Imam Asy Syafi’i pernah berkata dalam bait syair,
Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat.
Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan,
maka ia pasti akan selamat.
Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan.
Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan.

AKHLAKUL KARIMAH

Oleh: Moeflich Hasbullah

      Umar bin Khattab (581-644) adalah khalifah yang telah membentangkan pengaruh Islam di sejumlah wilayah yang berada di luar Arab Saudi. Di masanya, Mesopotamia, sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, dan Armenia, jatuh ke dalam kekuasaan Islam.
      Kekuatan sebagai pemimpin sangat luar biasa, hadir berkat tempaan sang pemimpin agung, Muhammad Rasulullah SAW. Namun, dibalik kesuksesannnya sebagai pemimpin negara, Umar tetaplah seorang pribadi yang sangat sederhana.
      Suatu hari, anak laki-laki Umar bin Khattab pulang sambil menangis. Sebabnya, anak sang khalifah itu selalu diejek teman-temannya karena bajunya jelek dan robek. Umar lalu menghiburnya. Berganti hari, ejekan teman-temannya itu terjadi lagi, dan sang anak pun pulang dengan menangis.
      Setelah terjadi beberapa kali, rasa ibanya sebagai ayah mulai tumbuh. Tak cukup nasihat, anak itu meminta dibelikan baju baru. Tapi, dari mana uangnya? Umar bingung, gajinya sebagai khalifah tidak cukup untuk membeli baju baru. Setelah berpikir, ia pun punya ide. Umar menyurati baitul mal (bendahara negara).
      Isi surat itu, (kira-kira bunyinya begini): "Kepada Kepala Baitul Mal, dari Khalifah Umar. Aku bermaksud meminjam uang untuk membeli baju buat anakku yang sudah robek. Untuk pembayarannya, potong saja gajiku sebagai khalifah setiap bulan. Semoga Allah merahmati kita semua."
      Mendapati surat dari sang Khalifah Umar, kepala baitul mal pun memberikan surat balasan. Bunyinya, kurang lebih begini: "Wahai Amirul Mukminin, surat Anda sudah kami terima, dan kami maklum dengan isinya. Engkau mengajukan pinjaman, dan pembayarannya agar dipotong dari gaji engkau sebagai khalifah setiap bulan. Tetapi, sebelum pengajuan itu kami penuhi, tolong jawab dulu pertanyaan ini, dari mana engkau yakin bahwa besok engkau masih hidup?"
      Membaca balasan surat itu, bergetarlah hati Umar. Tubuhnya seakan lemas tak bertulang. Umar tidak bisa membuktikan bahwa esok hari ia masih hidup. Ia sadar telah berbuat salah. Ia bersujud sambil beristigfar memohon ampun kepada Allah.
      Setelah memohon ampun, ia pun memanggil anaknya. "Wahai anakku, maafkan ayahmu. Aku tak sanggup membelikan baju baru untukmu. Ketahuilah, kemuliaan seseorang bukan diukur dari bajunya, melainkan dari kemuliaan akhlaknya. Sekarang, pergilah engkau ke sekolah, dan katakan saja kepada teman-temanmu bahwa ayahmu tak punya uang untuk membeli baju baru."
      Alangkah luar biasanya perhatian dan kewaspadaan seorang pemimpin dan bawahan. Mereka saling memberikan nasihat dan peringatan. Kisah ini menohok kesadaran kita tentang perilaku para pemimpin sekarang di negeri ini.
      Alih-alih mengutamakan kesederhanaan dan kemuliaan akhlak, mereka malah saling berebut kekuasaan dan memperkaya diri dengan perilaku korup. Semua itu dilakukan tanpa rasa bersalah. Bahkan, antara atasan dan bawahan saling menutupi kesalahan satu sama lain. Tak heran bila Allah menimpakan azab demi azab (bencana) untuk menyadarkan kita agar senantiasa takut kepada-Nya. Wallahu a'lam.

Jumat, 20 April 2012

AMPUHNYA DO'A


Aku sudah menikah lebih dari tujuh tahun. Alhamdulillah segala yang aku dambakan –sesuai pandanganku- sudah aku dapatkan. Aku sudah mapan dalam pekerjaan, dan sudah mapan dalam perkawinanku… Yang kukeluhkan hanyalah rasa bosan. Aku dan istriku belum juga dianugerahi seorang anak. Akupun mulai diliputi kejemuan.
Aku sudah banyak mengunjungi dokter. Aku yakin, bahwa aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Aku pergi berobat ke dalam dan luar negeri. Ketika aku mendengar ada seorang dokter spesialis kemandulan baru datang, aku segera memesan waktu konsultasi...
Berbagai kiat banyak diberikan, sementara obat-obatan lebih banyak lagi. Namun tidak ada gunanya sama sekali… 
Lebih sering kami berbicara tentang dokter Anu dan Anu, apa yang dia katakan dan apa yang kami alami… Masa menunggu itu terus berlangsung hingga setahun atau dua tahun. Masa pengobatan itu lama sekali. Ada yang menyatakan bahwa kemandulan itu berasal dari diriku. Namun sebagian lain menyatakan bahwa hal itu berasal dari istriku. Pokoknya hari-hari kami hanya diisi dengan pemeriksaan dan pemecahan problem tersebut. Bayangan tentang anak begitu menguasai jiwa kami. Padahal aku sudah berusaha untuk tidak menyentuh perasaan istriku. Namun semua yang berlangsung mengusik perasaannya.
Banyak pertanyan yang muncul. Ada yang bertanya kepadanya: “apa lagi yang kamu tunggu?”seolah urusan itu berada di tangan istriku. Ada lagi yang menyarankan agar ia berobat ke dokter Anu di lokasi Anu. Fulanah sudah mencoba kesana dan kini sudah melahirkan anak. Demikian juga Fulanah. Demikianlah, orang-orang disekitar istriku memiliki banyak andil dalam melontarkan pertanyaan. Namun tak seorangpun yang berkata kepada kami: “kenapa tidak menghadap ke Allah dan berdoa kepada-Nya dengan penuh keikhlasan?”
Berlalu sudah tujuh tahun, kami seolah menjulurkan lidah di belakang para dokter dan lupa berdoa. Kami lupa berserah diri kepada Allah…
Pada suatu sore aku menyeberang jalan, tiba-tiba kulihat seorang laki-laki buta menyeberang jalan yang sama… aku segera menuntunnya dan berjalan separuh jalan bersamanya. Di tengah jalan, kami berhenti. Kami menunggu sampai bagian jalan di seberang agak sepi dari kendaraan. Lelaki itu menyempatkan untuk bertanya kepadaku, setelah sebelumnya mendoakan diriku agar sehat dan mendapat taufik. “Anda sudah menikah?” “Sudah.” Jawabku. Ia bertanya lagi: “ sudah punya anak?” “Allah belum menakdirkannya.” Jawabku kepadanya. “Sudah tujuh tahun kami menunggu kabar gembira itu.”
Kamipun menyeberang jalan. Ketika kami hendak berpisah, lelaki itu berkata: “ Wahai anakku. Aku sudah pernah mengalami apa yang engkau alami. Namun dalam setiap shalat aku berdoa: “Rabbi, janganlah Engkau meninggalkanku seorang diri, sementara Eengkau adalah sebaik-baiknya yang memberikan warisan. “(Al-Anbiya’:89)
Alhamdulillah kini aku sudah memiliki tujuh orang anak.” Lelaki tua itu menekan tanganku sambil berkata “Jangan lupa berdoa.” Sebelumnya aku tidak mengharapkan nasihat seperti itu. Aku sudah mendapatkan sesuatu yang hilang.
Aku menceritakan kejadian itu kepada istriku. Kamipun tertarik memperbincangkannya. Kenapa selama ini kami tidak berdoa? Padahal segala sesuatu sudah kami cari dan sudah kami coba? Semua dokter sudah kami dengarkan ucapannya dan sudah pernah kami ketuk pintu rumahnya. Kenapa kami tidak pernah mengetuk pintu Allah? Padahal itulah pintu terbesar dan itulah pintu terdekat. Istriku juga baru ingat bahwa ada seorang wanita tua yang menasihatinya dua tahun yang lalu: “Hendaknya engkau berdoa.” Namun, sebagaimana dikisahkan istriku, kala itu kami sudah memiliki banyak jam konsultasi bersama banyak dokter. Sehingga kami sudah terbiasa mengkonsultasikan persoalan kami dengan para dokter tersebut. Tanpa rasa khawatir atau gelisah, hanya sebatas konsultasi saja. Kami hanya menyelidiki cara penyembuhan yang terbatas saja, sebagai salah satu ikhtiar.
Kamipun menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati. Dalam shalat wajib dan juga dalam shalat malam. Kami berusaha mencari waktu-waktu dimana doa mudah dikabulkan. Persangkaan kami tidak sia-sia. Kamipun juga tidak ditolak. Bahkan Allah membuka pintu keterkabulan doa. Istriku hamil, dan akhirnya melahirkan seorang anak. Sungguh Maha Suci Allah, sebaik-baik pencipta.
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertqwa.” (A-Furqan: 74)

Sumber: Az-Zaman Al-Qaadim

Senin, 09 April 2012

PASAMBAHAN KATURUN

PASAMBAHAN KATURUN
 (MINTAK PULANG).
 K.R St.Alamsyah.

Sesudah selesai makan dan minum serta menyantap parabuang (kue-kue) yang dihidangkan, biasanya disambung dengan rokok sebatang dan ngobrol kekiri-kekanan, maka sampailah waktunya untuk pulang. Si alek yang biasanya diwakili oleh orang yang sama dengan yang menyampaikan pasambahan diawal alek tadi akan diminta oleh anggota alek yang lain untuk meminta diri ke si pangka. Pasambahan inipun biasanya ditujukan kepada orang yang sama dari si pangka.
St.Mangkuto : " Angku sutan Alamsyah, ambo manyambah." ( disampaikan dengan
menyusun jari seperti menyembah ke arah St.Alamsyah, dan St.Alamsyah berdiri untuk kemudian menjawab).
St.Alamsyah : " Manitahlah, Sutan Mangkuto".
St.Mangkuto : " Sungguahpun Sutan surang nan ambo sambah, alah sarapek
papeknyolah Niniak mamak, sarato jo silang nan bapangka karajo nan bapokok, nan Sutan baipa bisan, jo urang sumando tampek ambo maantakan sambah. Indak taatok tabilang gala jo sambah ambo muliakan. Indak doh ambo rasonyo malampau malinteh, alah bulek kato dipihak sabalah kamari di ambo tabik pasambahan. Apo nan jadi buah pasambahan dek kami iolah karano diwakatu nan bak kini, kok nan diama alah pacah, nan dimukasuik alah sampai, saiyo pulo dek ado pulo karajo duo-tigo nan mananti, baitu pulo dek niniak jo mamak kok lamo tagak taraso paniang, kok lamo duduak taraso panek, iolah nak maurak selo maayun langkah nak pulang karumah masiang-masiang. Mamintak kami, nak dilapeh jo hati nan suci, jo muko nan janiah. Sakian sambah bakeh Sutan."
 (Cara minta diri yang sangat indah penyampaiannya. Dengan petatah petitih disampaikan kerja yang ini sudah selesai, dan masih ada kerja yang lain, maka pertemuan ini minta diakhiri).
St.Alamsyah : " Alah sampai tu, Sutan Mangkuto?"
St.Mangkuto : " Alah, Sutan".
St.Alamsyah : " Ma, Sutan Mangkuto, sungguahpun Sutan surang nan ambo sambah,
alah sarapek papeknyolah niniak jo mamak, sarato jo tuangku nan dua tigo kadudukan, tampek ambo maantakan sambah. Indak taatok tabilang gala jo sambah ambo muliakan. Indak doh ambo malampau malinteh, dek ambo tabik pasambahan. Ma, St.Mangkuto. Apo nan jadi pasambahan dek Sutan tadi iolah dek karano hari alah barembang patang, kok balayia alah sampai kapulau, kok bajalan alah sampai kabateh, nan diama alah pacah, nan dimukasuik alah sampai, baitu pulo dek ado karajo duo jo tigo, niniak jo mamak sarato alek nak mintak dilapeh jo hati nan suci, jo muko nan janiah, kan iyo sarupo itu, Sutan?"
 (Versi jawaban dari St.Alamsyah ini tidak persis sama dengan apa yang diucapkan oleh St.Mangkuto, tetapi intinya adalah serupa. Sehingga kalau diikuti secara baik, akan terlihat bahwa kedua orang ini mengeluarkan segala kemampuannya untuk membuat pembicaraan sambah manyambah ini tidak menjadi kaku dan monoton).
St.Mangkuto : " Sabana-bananyo tuh Sutan"
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto. Nan jadi buah panitahan dek sutan tadi tu iolah alah
talingka dipusako, alah pasa nan batampuah. Namun sungguahpun baitu bak pituah urang tuo-tuo, kato surang babuleki, kato basamo bapaiyokan, dek karano kami ado baduo batigo disiko, kok ambo elo jo mupakaik, mananti Sutan sakutiko, laikoh didalam adaik?"
St.Mangkuto :" Ma St.Alamsyah, iyo di Sutan, bapakaikan bana pituah utrang tuo, kok
baitu bialah ambo nanti, asa pintak lai ka balaku, kandak lai ka buliah".
 (St.Alamsyah membawa pembicaraannya itu kedalam kelompok si pangka. Biasanya salah seorang si pangka akan mengatakan minta maaflah dulu kalau ada pelayanan si pangka yang kurang. Pembicaraan ini tidak dilakukan dalam bentuk sambah manyambah).
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto. Dihari nan tadi minta wakatu ambo sasaat sakutiko
untuk mampaiyo mampatidokan nan jadi buah panitahan Sutan. Saiyo puloh kakasan lai kababari nyo. Namun ado pulo nan takana dek silang nan bapangka karajo nan bapokok, iyolah tantangan duduak jo makan. Kok jujua panjuik, luhak lambang, nan tuo ta katangahkan, nan mudo ta katapikan, iyolah mintak maaf kami silang nan bapangka karajo nan bapokok. Baitu juo tantangan makan jo minum, kok kurang asam garamnyo iyolah sabana minta direlakan jo dimaafkan. Sakian sambah bakeh Sutan."
 (Pelayanan yang kurang tentu tidak mengenakkan bagi alek yang datang. Untuk itu si pangka mintak maaf kalau ada orang tua yang didudukkan ditengah-tengah dan yang muda didudukkan dipinggir. Maksudnya adalah seharusnya yang tua duduk dipinggir ruangan supaya bisa bersandar ke dinding dan yang muda masih kuat untuk duduk ditengah tanpa harus bersandar. Bagitu juga sambal/gulai yang dimakan biasanya adalah masakan dapur rumah itu, kalau kurang enak tentu yang harus minta maaf atas kekurangan ini adalah si pangka).
St.Mangkuto : " Alah sampai tu, Sutan?"
St.Alamsyah : " Alah., Sutan"
St.Mangkuto : " Dihari nan tadi Sutan minta wakatu sasaat sakutiko untuk mampaiyo
mampatidokan parmintaan dari kami nan sabalah kamari ko. Saiyo pulo alah dapek kato nan sapakaik, kakasan lai kababari. Disampiang itu baparmintaan pulo dari silang nan bapangka karajo nan bapokok, tantangan duduak, kok lai nan indak ditampaiknyo, nan diateh ta kabawahkan, nan ditangah ta katapikan, baitu juo tantangan makan, kok lai nan kurang asam garamnyo, nan malimbak dek panuah, nan badakuak dek kurang, mintak dibari maaf. Kan iyo sarupo itu Sutan?"
St.Alamsyah : " Sabana-bana nyo tu, Sutan."
St.Mangkuto : " Ma St.Alamsyah. Sapanjang panitahan Sutan tadi iyolah ambo jawab.
Tapi kok nan parmintaan Sutan ko, kok ambo bao jo mupakaik, jo niniak mamak nan sabalah kamari lai koh dalam adaik Sutan?"
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto. Iyolah bapakaikan bana dek Sutan adaik nan
diadaikkan, Pailah Sutan jo parundiangan, ambo tagak jo panantian."
 (St.Mangkuto membawa pula pembicaraannya tadi dalam kelompok si alek. Sesudah dapat kata putus bahwa semuanya sudah sesuai dan sudah pada tempatnya maka disampaikanlah oleh St.Mangkuto ke St.Alamsyah.)
St.Mangkuto : " Ma St.Alamsyah. Dihari nan tadi mintak wakatu ambo sasaat sakutiko,
iyolah alah dapek kato nan sapakaik rundiang nan saukua. Kok tantangan duduak iyolah alah ditampeknyo. Nan tuo alah katapi, nan mudo alah katangah.Bak kecek urang gaek, alah di rasuak manjariau, alah dilae lakek atok. Baitu juo kok juadah nan katangah iyolah alah saasam sagaramnyo. Nasi nan sasuok iyo alah kaubek litak, aia saraguak iyo alah paubek hauih. Nan piriang tadinyo tasusun rapi, kini alah centang parenang. Sadonyo alah sarasi. Alah koh sanang hati Sutan? Subaliak daripado itu iyo parmintaan kami tadi juolah nak kami ulang."
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto. Iyo di Sutan, alah baelo kato jo mupakaik, babao jo
rundiangan. Alah dapek pulo kato nan saiyo, kok nasi sasuok iyo alah kaubek litak, kok aia saraguak alah paubek hauih. Baitu pulo kok duduak iyo alah ditampeknyo. Kan baitu, Sutan?"
St.Mangkuto : " Saiyo-iyo, Sutan"
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto, tantangan nan katangah dek Sutan tadi iyolah dalam
adaik nan bapakai, alah barih nan bapahek. Sungguahpun baitu, bak kecek urang tuo-tuo, padi indak sakali masak, buruang indak sakali inggok, ado pulo nan takana dikami silang nan bapangka karajo nan bapokok, iyolah tantangan marapulai, nan baantakan. Kok ketek iyolah banamo, kok gadang iyolah bagala, siapo koh namo marapulai dan siapokoh gala baliau. Sakian sambah bakeh Sutan?"
 (Untuk mengatakan bahwa si pangka kelupaan, si pangka menyampaikan melalui petatah-petitih yang memberikan kesan bahwa lupa itu adalah hal yang alamiah. Padi disawah tidak serentak masaknya, burung yang berombongan terbangnya tidak serentak hinggap, selalu ada yang tertinggal. Bagitu juga ingatan si pangka).
St.Mangkuto : " Alah sampai, Sutan?"
St.Alamsyah : " Alah, Sutan."
St.Mangkuto : " Ma St.Alamsyah. Sambah manyambah kapado Allah sajo kito
pulangkan. Baitu juo panitahan Angku tadi, kok dirantang namuah panjang, kok dipunta namuah singkek. Daulu kato basitinah kudian kato basicapek,capek sajo ambo manjawab kaharibaan Angku. Ado pulo nan taraso-raso dihati nan takalang-kalang dimato dek silang nan bapangka karajo nan bapokok, iolah tantangan marapulai. Kok ketek banamo gadang bagala. Sia koh namo ketek jo gala marapulai. Kan baitu, Sutan?"
St.Alamsyah : " Sabananyo tu, Sutan"
St.Mangkuto : " Ma st.Alamsyah. Tantangan itu nan Sutan tanyokan, iyolah dek karano
marapulaiko, baniniak jo bamamak, ambo tanyokan kabaliau tu sabanta, mananti Sutan sakutiko, lai dalam adaik tu Sutan?"
St.Alamsyah : " Basugirolah lah Sutan."
 (St.Mangkuto menanyakan gelar dari marapulai, ke salah seorang keluarga yang terdekat dari marapulai. Biasanya gelar itu sudah disediakan dan tinggal menyampaikan secara resmi di acara ini).
St.Mangkuto : " Ma St.Alamsyah. Dihari nan tadi minta wakatu ambo sasaat sakutiko
untuk mananyokan gala marapulai. Alah dapek pambarinyo, iyolah marapulai ko banamo ……………….(disebutkanlah nama marapulai), kini bagala Sutan ………………. (disebutkan pula gelar yang diberikan oleh mamak marapulai). Disubaliak daripado itu baparmintaan pula niniak jo mamak marapulai, minta gala baliau ko disorakkan ditapian nan langang, dilabuah nan rami. Baitu juo, kok iyo nan marapulaiko umua baru sataun jaguang, darah baru satampuak pinang, kok kabukik samo dibao mandaki, kalurah samo dibao manurun, Sakian sambah, Sutan."
 (St.Mangkuto mewakili keluarga marapulai, menitipkan marapulai kekeluarga anak daro, supaya dibawa sama-sama sehilir semudik dalam kehidupan kekeluargaan ini.)
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto. Iyolah dek pambari , tantangan namo marapulai yaitu
…………………….(nama marapulai) nan kini bagala Sutan ………………(gala marapulai). Kok baitu, iyolah kok sorak lah kalampauan, bisiak lah samo kadangaran, bialah nak kami imbaukan dilabuah nan gorong di tapian nan rami. Saiyo pulo nan marapulaiko, iolah nak kami bao saayun salangkah, kok tatilantang samo minum aia, kok tatungkuik samo makan tanah, Kok utang sapambayaran, piutang satarimo. Baitu bana dikami tu, Sutan, Alah koh sanang hati Sutan?"
 (St.Alamsyah mewakili keluarga anak daro menyampaikan pula bahwa marapulai ini akan diperlakukan lebih dari yang diharapkan oleh keluarga marapulai. Bukan hanya dibawa kebukit dan kelembah saja, sampai-sampai hutang pun sama-sama dibayar).
St.Mangkuto : " Ma St.Alamsyah. Kok itu nan Sutan sabuik iyolah sabana sajuak dalam
hati, lah sanang kiro-kiro mandangakannyo. Nan kok baitu, namonyo lah sampai kito kaujuang mah, Sutan. Baliak pulolah kapangka, parmintaan kami tadi nak dilapeh jo hati nan suci jo muko nan janiah tadi juolah panuahi. Sakian, Sutan."
St.Alamsyah : " Ma St.Mangkuto, bak kecek urang gaek, ditarah indak tatarah, ditabeh
juo jadinyo. Ditagah indak tatagah, dilapeh juo jadinyo. Baapo lai Sutan, kok iyo baitu pintak Sutan, kami lapeh malah jo hati nan suci, jo muko nan janiah. Baparantian malah kito."
St.Mangkuto : " Dek pintak alah balaku kandak alah buliah, Alhamdulillah panyudahi,
Sutan. Samo-samo mambaruikkan tangan kamuko sajo awak Sutan.
 Dengan demikian selesailah sudah acara sambah manyambah minta pulang dirumah anak daro sesudah selesai makan dan mendoa selamat.

Cobolah inok manuangkan.


KASIH IBU SAPANJANG JALAN, SAYANG ANAK SAPANJANG PANGGALAN.
 
Wahai Anakku...
Katiko kami lah samakin tuo, Kami baharok kalian mamahami sarato mampunyoi kasabaran untuk kami,suatu katiko kami mungkin mamacahkan piriang,atau menumpahkan gulai diateh meja, karano pancaliaan kami lah bakurang,kami harokan kalian indak bangih ka kami, sabab urang tuo2 tu paibo hati ato sensitif kecek urang,,,salalu maraso basalah katiko suaro kalian takareh.

Katiko pandangaran kami samakin mamburuak, dan kami indak bisa mandanga apo nan kalian pakecekan,kami harok kalian indak maimbau kami “pakak!"tolongsen diulang apo nan kalian kecekan ato manulihno dikarateh.
Maaf,… maafkan kami …. Karano kami lah samakin tuo.

Katiko lutuik kami mulai lamah,
Kami harok kalian mamiliki kasabaran untuk mambantu kami jago, Sabagaimano kami salalu basaba maaja kalian bajalan wakatu masih kicik-kicik dulu,Kami mohon janlah bosan jo kami, ndak ado tampek kami mintak tolong lai do.

Katiko kami lah acok maulang-ulang kecek, saroaman jo kasek rusak, kami harok kalian taruihlah mandangakan kami, tolong jan mencameehkan kami, taibo hati kami, atao janlah bosan mandangakan kami, Apokoh lain takana di kalian katiko kalian masih kaciak-kacik dulu, mintak lambuang-lambuang ? Kalian mamintakno baulang-ulang sampai kalian mandapekan apo nan kalian ingikan.

Maafkan kami wahai anak-anak kami,... katiko badan kami lah babaun…
Babaun sarupo urang nanlah tuo…..
Kami mohon, janlah mamaso kami untuk mandi, badan kami lah lamah sarato lameh.....
Orang tuo murah sakikno karano dingin, murah masuak angin karano rentan jo dingin.
Kami harok walaupun kami lah kumuah tapi janlah mambuek kalian marasa jajok sarato jagan,
Laikoh takana di kalian, katiko kalian kacik dulu indak amuah mandi ?,,,, kami taruih mangaja kalian untuk dimandian karano badan kalian lah bakubang lunau….
Kami harok kalian bisa basaba jo kami,…
Katiko kami lah mulai rewel atao genyeh karano itu sarono bagian dari kalakuan urang tuo-tuo,,, kalian akan tau kalau kalian lah tuolo  isuak….

Kalau kalian lai bawaktu luang, Kami arokan kito bisa bacarito, Dak paralu lamo-lamo doh, tolonglah luangkan wakatu kalian sabanta….
Kami taruih kalian tinggaan sahinggo kami ndak ado tampak untuk mancaritoan parasaian,… kami tau kalian sibuk jo karajo, Walaupun kalian ndak tatarik jo carito kami, Kami mohon agiahlah kami wakatu untuk basamo-samo jo kalian cacah,
Indakkoh takana di kalian katiko kalian kaciak dulu ? Kami salalu mandangakan carito kalian tantang pamainan kalian, padahal kami ndak mangarati, tapi kami dangaan juo,… 

Wahai anak-anak kami….
Katiko saatno tibo…..
Kami hanyo bisa tatilantang, sakik dan sakik…
Kami baharok mudah-mudahan kalian lai mampunyoi kasabaran untuk marawaek kami.
Maaf.......maaf kan kami wahai anak-anakku…
Kalau kami lah acok maranang di kasua atau mungkin lah acok bapeteh-petehsen kaluano dilantai rumah kalian nan bakilek,,,, tolonglah basaba marawaek kami, itu tandono hiduik kami ndak kalamo lai dudo,… Disaat-saat tarakhir dalam hiduik kami, Kami mungkin ndak kabatahan lamo lai….

Katiko wakatu kamatian kami lah datang,…
Kami baharrok kalian mamacik an tangan kami,.  Sarato mambarikan kekuatan untuak kami maadok I kamatian,…. dan injanlah kalian khawatir, katiko kami batamu jo Sang Pancipta,…
Kami akan bisiak an ka Tuhan Allah Swt. untuak salalu membarikan barkah ka kalian,..
karano kalian mancintoi Ayah jo Ibu kalian... dan injanlah kalian marato i kapaian kami,…
karana ndak ado gunono lai,… nan paralu kami harok an toloanglah do’a kami,…
karano Allah lah bajanji, do’a kalian akan malapangkan kami…….

Tarimo kasih karano kalian lai basaba manjago kami,…
Insya Allah, Allah akan mambaleh dari arah nan ndak kalian sangko-sangko,
Karano ka Ikhlasan kalian,…..
Dan kami tatap akan mancintoi kalian jo kasiah sayang nan malimpah……

Ibu & Ayah